kalyANamandira, di Rentang Waktu

Selayang Pandang

Yayasan kalyANamandira (KM), berdiri sejak tahun 2001, mulai serius menggeluti bidang pendidikan ketika mulai terlibat dalam kegiatan Jaringan Pendidikan Demokrasi untuk Siswa. Segera setelah terlibat, kalyANamandira semakin percaya bahwa pendidikan memang salah satu anasir perubahan sosial yang mendasar.

Diawali dengan pendampingan beberapa kelompok siswa di sekolah dalam program lingkungan, lalu KM membantu teman-teman ini mengorganisir diri dalam wadah KOPLING, Komunitas Pelajar Peduli Lingkungan. Anggotanya terdiri dari beberapa siswa dari beberapa SMU dan SMP di Bandung. Beberapa teman dari KOPLING, kini menjadi tulang punggung kegiatan KM.

Tempat berkumpul teman-teman kalyANamandira, Jl. Kliningan 3 No. 9B Buah Batu, Bandung

Tempat berkumpul teman-teman kalyANamandira, Jl. Kliningan 3 No. 9B Buah Batu, Bandung. (JNA)

Hingga tahun 2006, kegiatan kalyANamandira lebih banyak di bidang pengembangan metodologi pendidikan alternatif. Pemahaman berbagai pihak yang beragam tentang pendidikan alternatif, membuka peluang besar bagi pengembangannya. Demikian kalyANamandira, kemudian mencoba melibatkan diri dalam beberapa program. Dua di antaranya adalah pendampingan anak rutan di Rutan Kebonwaru Bandung, dan pendampingan belajar untuk siswa SMP-SMU di RW-09, Kelurahan Samoja, Bandung.

api-unggun-black

API UNGGUN di malam perencanaan kegiatan Komunitas Pelajar Peduli Lingkungan (KOPLING), organisasi pelajar binaan KM. (JNA)

Sejak lahirnya, kalyANamandira (KM) memang diwarnai dengan semangat kekeluargaan, non-formal, dan kesukarelaan. Selama hampir 6 tahun perjalanannya, tiga prinsip ini ternyata mampu mempertahankan keberadaan KM, meski dengan wujud yang tidak seutuh pada saat berdirinya. Sukarelawan datang dan pergi, beberapa bertahan, beberapa pindah haluan, dan beberapa yang lain menjadi simpatisan. Tapi keanekaragaman ini mendorong bentuk kontribusi yang beragam pula, sehingga diam-diam KM tidak pernah benar-benar surut.

Menutup tahun 2006, KM menyelenggarakan rapat kecil, yang mencoba mendefinisikan ulang, siapa KM, mengapa ia masih eksis hingga hari ini, dan apa yang bisa dicapai di masa depan. Pada tahun ini pula dirumuskan cita-cita ke depan, yang ingin dicapai oleh warga KM, yang berbunyi:

“Berperan Aktif dalam Perubahan Pendidikan di Kota Bandung”

Berikut adalah cuplikan beberapa hasil rapat kecil yang digelar secara bersahaja pada akhir tahun 2006, bertempat di sekretariat jalan Kliningan III No. 9B, Bandung.

Pengalaman Paling Berkesan

Tidak sedikit pengalaman menarik berhasil diungkap dalam sesi ini. Pengalaman bersama KM cukup bervariasi, mulai dari pengalaman berdiskusi bersama teman-teman di KM, atau sewaktu mengikuti kegiatan pelatihan. Kegiatan diskusi bersama teman-teman di KM menjadi favorit bagi sebagian besar teman.

Yang paling mengesankan itu Kang Dan. Kalo dengerin Kang Dan ngomong, kita tuh serasa disihir… Kadang-kadang kita selalu bisa mikir optimis kalo Kang Dan yang ngomong…

Diskusi ini biasanya berlangsung tidak formal, dan terkadang dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak lazim (pukul 23.00 hingga 04.00, atau terkadang sampai mata tak sanggup lagi melek…). Topiknya pun bervariasi, bisa tentang berita di infotainment atau tentang isu mutahir tentang perpolitikan negeri ini. Namanya juga diskusi informal, jarang ada kesimpulan yang dibuat. Masing-masing mengambil kesimpulan sendiri atas diskusi yang berlangsung.

Diskusi bisa diawali dengan topik rebutan pacar, lalu berbelok menjadi perbedaan kritis dan naif, lalu tiba-tiba bisa berubah jadi skor pertandingan sepak bola Liga Inggris… Ada juga yang satu terus ngomong, yang lain sudah sibuk ngorok… Tapi banyak hal yang bisa dipelajari kalau diskusi, meski kadang nggak ingat waktu…

Istilah yang paling tepat untuk kegiatan diskusi itu adalah ngadabrul. Tapi ngadabrul ala KM telah melahirkan seorang Fanni, yang nekad menempelkan selebaran berisi protes pada aturan di sekolahnya hingga diancam dikeluarkan dari sekolah. Erus, yang merasa frustasi karena topik diskusi teman-teman di kampusnya tidak bermutu, atau  kesal karena teman-teman di kampusnya cuma bisa ngomong di belakang.

diskusi

NGADABRUL ala KOPLING, diskusi santai yang diam-diam memberi peluang mengubah cara pandang. (JNA)

Dengan modal ngadabrul pula, seorang Aman terpilih menjadi Ketua Koalisi Anak Jawa Barat, dan berkesempatan berfoto bersama orang tua, yang dengan polos Aman mengaku bahkan tidak tahu siapa orang tua itu. Belakangan ketahuan, ternyata orang tua itu adalah Solihin GP.

Rupanya suasana informal ini pula yang menyebabkan diskusi menjadi pengalaman yang berkesan bagi teman-teman. Dalam diskusi, semua orang setara. Semua orang merasa dihargai, meski dengan cara-cara yang terkadang juga tidak lazim. Teman-teman menemukan keluarga yang lain dalam suasana diskusi itu.

Selain pengalaman dalam berdiskusi, pengalaman dalam berkegiatan juga cukup berkesan bagi beberapa teman. Pada waktu yang lalu, beberapa teman ini pernah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berskala kota. Tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga sebagai pihak yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. Pengalaman menjadi pengorganisasi kegiatan-kegiatan seperti itu menjadi pengalaman yang berkesan, from nothing to something, from zero to hero…

Dulu saya pernah melatih bapak-bapak dan ibu-ibu, padahal saya sendiri baru kelas 2 SMU. Pertama-tama memang canggung, tapi lama-lama ya biasa aja… Waktu ikutan demo di Gedung Sate rasanya kita kayak yang di tivi-tivi gitu… Kita kan pernah bikin koran segala, kampanye damai di balai kota, aksi bersih di taman kota, wah hebat banget…

Iklan