Diarsipkan di bawah: 04-Bahan Rujukan | Tag: metode belajar, pendidikan alternatif, rumah belajar
Tujuan Belajar Berbasis Pencapaian
Dari blog pendidikan alternatif, ada tulisan mengenai metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aktifitas peserta belajarnya. Indikator awal yang digunakan adalah dalam penulisan tujuan belajar (seringkali orang menyebutnya sebagai tujuan instruksional khusus-pen) menggunakan kata-kata kerja aktif, yang hasil belajarnya dapat langsung diamati (konkrit). Berikut kutipan dari blog tersebut:
Kalau Anda adalah pendidik, atau pengajar, atau pelatih, mungkin sudah sering mendengar istilah tujuan belajar. Kalau guru di sekolah, istilah tujuan belajar terkadang disebut juga tujuan instruksional khusus, dan umum. Intinya, tujuan belajar adalah akan diapakan si peserta belajar dalam proses pembelajaran. Kalimatnya bisa berbunyi, “Setelah mengikuti sesi ini, peserta dapat…” dan seterusnya.
Silakan kunjungi blognya, di sini.

Dari website resistbook Anda akan menemukan banyak referensi mengenai pendidikan kritis. Mereka bahkan meluncurkan seri khusus, yang disebut sebagai seri Pendidikan Kritis.
Seri ini merupakan ruang yang dibuka sebagai bentuk perhatian atas carut-marutnya dunia pendidikan. Dalam seri ini, dielaborasi pelbagai kajian kritis atas roda pendidikan di negeri ini yang jalannya tak pernah benar. Karya-karya di sini ingin mengajak pembaca agar tak bosan-bosannya untuk peka dan peduli pada masalah-masalah pendidikan.
Silakan kunjungi web-nya di sini.
Diarsipkan di bawah: 04-Bahan Rujukan | Tag: pendidikan alternatif, pendidikan kritis
Apa dan Mengapa Pendidikan Kritis
Bicara mengenai pendidikan kritis, mengingatkan kembali pada Buku Pendidikan Popular terbitan INSIST. Buku ini memang bukan buku baru, tetapi cukup mumpuni untuk digunakan sebagai dasar pemahaman mengenai pendidikan kritis. Pendidikan kritis pada dasarnya merupakan aliran, paham dalam pendidikan dalam rangka untuk pemberdayaan dan pembebasan. Perdebatan mengenai peran pendidikan di lingkungan teoritisi dan praktisi berkisar mengenai pendidikan sebagai untuk melawan sistem kapitalisme, dan sistem lain yang menindas. Namun, pembahasan mengenai pendidikan sebagai alat perubahan sosisial, menyebabkan terbaginya dua aliran menyangkut pendidikan—apakah pendidikan dapat digunakan sebagai media transformasi sosial.
- Golongan pertama adalah penganut paham “reproduksi”. Golongan ini sangat pesimis bahwa pendidikan mempunyai peran untuk perubahan sosial menuju transformasi sosial. Mereka menganut teori repsoduksi. Golongan ini menganggap bahwa pendidikan dalam sistem kapitalisme berperan untuk mereproduksi sistem itu sendiri. Pendidikan akan melahirkan peserta didik yang akan memperkuat sistem dalam masayarakat. Sehingga mereka sangat pesimistis bahwa pendidikan akan mampu menjadi penyebab transformasi sosial.
- Golongan kedua, yakni penganut paham “produksi”. Golongan ini, meyakini bahwa pendidikan mampu menciptakan ruang untuk tumbuhnya resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominan. Bukankah sebagian besar tokoh nasional dunia ketiga yang memimpin bangsa mereka untuk melawan penjajahan, kolonialisme dan imperialisme lahir dari hasil pendidikan oleh sisitem pendidikan yang justru dimaksudkan untuk mempertahankan dan melanggengkan kolonialisme? Dengan demikian bagi penganut paham ini, pendidikan senantiasa mempunyai aspek pembebasan dan pemberdayaan, jika dilakukan melalui proses yang membebaskan serta dilaksanakan dalam kerangka membangkitkan kesadaran kritis.
Pijakan dasar tradisi pendidikan kritis yakni pemikiran dan paradigma kritik ideologi terhadap sistem dan struktur sosial, ekonomi dan politik yang tidak adil. Dengan demikian pendidikan dalam perspektif paham ini merupakan media untuk resistensi dan aksi sosial yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan bagian dari proses transformasi sosial. Maka pendidikan kritis merupakan proses perjuangan politik.
Bagi penganut pendidikan kritis, ketidakadilan kelas, diskriminasi gender, hegemoni kultural dan politik serta dominasi melalui diskursus pengetahuan yang merasuk di dalam mayarakat, akan terefleksi dalam proses pendidikan, dan harus menjadi cermin kondisi sosial dalam dunia pendidikan. Dalam perspektif kritis, proses pendidikan merupakan prosesrefleksi dan aksi (praksis) terhadap seluruh tatanan dan relasi sosial dari sistem dan struktur sosial dan bagaimana perannya, cara kerjanya, dalam menyumbangkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan sosial.
Artinya apa? Proses pembelajaran di kelas adalah sebuah miniatur kehidupan. Bahwa nilai-nilai dalam Pancasila adalah nilai yang luhur, tapi tanpa diuji keluhurannya dalam proses pembelajaran yang kritis dan kreatif, maka nilai-nilai itu hanya akan jadi hafalan saja. Inilah konsep dimana pendidikan adalah sebuah proses hadap masalah, dan bukan lari dari masalah, atau sekedar kucing-kucingan dengan fakta di lapangan. Anak-anak bukanlah makhluk bodoh yang bisa dengan mudah dikendalikan seperti kerbau yang tercocok hidungnya. Mereka juga punya mata, punya telinga, dan punya rasa. Kontras antara tema diskusi di dalam kelas dengan fakta di jalanan, hanya akan membuat mereka frustasi dan akhirnya menciptakan nilai-nilainya sendiri. Anarki.
UPDATE:
Di blog ini Anda dapat menemukan beragam informasi mengenai pendidikan kritis.