kalyANamandira


kalyANamandira tentang Alam

kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

Rendra, 1978

Potongan puisi Rendra, “Sajak Sebatang Lisong” ini selalu mengingatkan kami pada pola pendidikan di Indonesia. Fenomena pemuda desa yang berangkat ke kota karena menjadi petani tak lagi menarik, seringkali menghiasi topik diskusi teman-teman di tempat kami biasa berkumpul. Tentang desa-desa yang tak lagi menjanjikan kehidupan yang nyata. Semua hanya karena  sekolah tidak pernah mengajarkan tentang bagaimana menggarap desanya sendiri. Persis seperti yang dipuisikan Rendra, sekolah hanya berisi rumus-rumus dan teori yang diagungkan dari belahan dunia sebelah sana.

Pendidikan, seharusnya tidak mencerabut manusia dari akarnya. Baik secara geografis, maupun secara sosial. Pendidikan seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, bukan justru menjerumuskannya ke dalam jebakan yang dibuat penindasnya. Tapi sudahlah.

Menuju lokasi sekolah alam

Menuju lokasi sekolah alam. (JNA)

Beberapa tahun yang lalu, kalyANamandira mengikuti kegiatan teman-teman dari komunitas TABOO, salah satu komunitas pendidikan alternatif di Bandung, dalam salah satu sesi pembelajaran mengenai alam sekitar. Lokasinya di daerah sekitar Dago atas, di sana ada sekolah alam yang memilki fasilitas untuk belajar.

Bersama anak-anak, kami menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri sawah-sawah yang dulunya milik petani. Sawah seperti ini sudah menjadi pemandangan eksotik buat orang kota, padahal katanya negara ini adalah negara agraris. Kita tahu pasti, tanah-tanah itu kini menjadi milik orang kota, dan petani itu hanya tinggal menjadi buruh serabutan saja. Sambil berjalan-jalan inilah anak-anak juga mendapat cerita yang aktual, bagaimana tanah-tanah petani sudah mulai berubah fungsi sekarang ini.

Dibimbing menyusuri jalan setapak di sekitar persawahan

Dibimbing menyusuri jalan setapak di sekitar persawahan. (JNA)

Sambil menapaki jalan-jalan berlumpur itu, anak-anak juga bisa merasakan sendiri, bagaimana rasanya berjalan di pematang. Sensasi alam, tidak seberapa tapi penting dalam membangun kepekaan mereka terhadap lingkungan. Tidak sedikit keluhan mereka dengan kondisi jalan setapak yang becek dan licin itu. Tapi dengan sabar para pendamping membimbing mereka hingga tujuan.

Bergelut dengan tanah liat. (JNA)

Bergelut dengan tanah liat. (JNA)

Sesampai di tempat tujuan, mereka diminta menggambarkan apa saja yang tadi dilihatnya sepanjang perjalanan, dan juga bermain-main dengan tanah liat. Mereka diminta membuat sesuatu, apapun yang mereka suka, dengan bahan tanah liat. Diskusi-diskusi tentang tema lukisan mereka, dan mengenai pengalaman mereka bergulat dengan tanah liat menjadi salah satu bahan belajar tentang alam.

Banyak yang mereka tidak tahu tentang lingkungannya sendiri. Kekaguman mereka tentang beragam hewan yang ditemuinya sepanjang perjalanan, pengalaman ketika menginjakkan kaki telanjang mereka ke tanah-tanah yang becek, dan masih banyak lagi. Pendamping hanya tinggal bercerita, dan memancing anak-anak yang sudah tahu untuk menceritakannya kepada teman yang lain.

Kami sangat terkesan dengan pengalaman ini. Semakin menguatkan kepercayaan kami, bahwa pendidikan memang tidak seharusnya terlepas dari kehidupan. Tidak saja tentang urusan mencari uang, tapi juga mengenai keberlanjutan kehidupan. Paling tidak anak-anak harus paham, bahwa alam ini hanya satu-satunya, dan Tuhan sudah berbaik hati menciptakannya untuk kita. Tugas kitalah menjaga alam ini.


1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Tulisan ini mengingatkan penulis pada masa duduk di sekolah dasar. Di kelas 3 murid-murid diajak jalan (hanya) bersama bapak guru menjelajahi daerah pinggiran kota, untuk mengenalkan situasi kehidupan yang belum tentu sudah dikenal oleh anak didiknya. Berjalan menyusuri pematang menuju kebun karet untuk melihat dari dekat proses penadahan. Atau memperkenalkan bermacam makam (kaum kristen, muslim, Cina, TMP, krematorium). Turun ke sawah berbicara dengan petani, mengenali tanaman di sepanjang pematang (mengapa di tanam di sana), mengenali fauna sawah basah (keong sawah, ikan kecil-kecil, dll., bagaimana rasa dan khasiatnya, dlsb.) Di sepanjang jalan selalu ada saja tanaman yang belum dikenal oleh sebagian murid: beda antara pohon penghasil kapuk dan pohon kapas, pohon apel Jawa (masih adakah?), juga pohon berbagai jenis buah yang jarang ditemui di pasar.

Kemampuan memakai/memanfaatkan komputer bisa dipelajari dan dikuasai di usia dewasa, juga bila kita dikungkung di dalam 4 dinding tembok. Rasa cinta dan penghargaan terhadap lingkungan perlu diperkenalkan dan dipupuk dari kecil.

Wassalam,
V Savitri

Komentar oleh V Savitri




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>